Meskipun dikenal sebagai Octavianus Masheka dalam dunia seni, nama aslinya adalah Martinus Holong Octavianus Masheka. Lahir pada tanggal 27 Maret 1965 di Padang Sidempuan, Octavianus telah
menapaki perjalanan panjangnya dalam dunia seni sejak tahun 1982.
Ketika ditanya tentang faktor yang membuatnya tertarik pada dunia seni, Octavianus mengungkapkan
bahwa pengaruh keluarga tidak ada dalam keputusannya. Dia meyakini bahwa ketertarikannya pada
seni lebih berkaitan dengan proses lingkungan di sekitarnya. Ia mulai menggeluti seni dengan menulis
puisi, cerpen, artikel, dan kronik budaya di Taman Budaya Padang, Sumatera Barat pada tahun 1982.
“Saat itu, saya menulis puisi, cerpen, artikel, dan kronik budaya di Taman Budaya Padang, Sumatera
Barat. Pada tahun 1985, saya menerbitkan kumpulan puisi pertama saya berjudul ‘Dendang Rindu’.
Walaupun saat itu masih berbentuk stensilan, kini karya tersebut telah berubah menjadi sebuah buku,”
ujarnya.
Octavianus juga menjelaskan perjalanan karyanya hingga menjadi penulis buku, ia mengungkapkan bahwa hingga saat ini ia belum membuat buku sendiri. Karya-karyanya masih berbentuk stensilan
yang ia hasilkan pada tahun 1980-an. Sebelumnya, Octavianus telah mengabdikan dirinya dalam dunia
visual sebagai seorang sutradara film selama belasan tahun sebelum kembali ke dunia sastra.
Ia mengungkapkan bahwa ia telah berkarir di dunia film televisi sejak tahun 1999. Ia merintis
karirnya dari pencatat adegan, menjadi asisten sutradara, dan akhirnya mencapai posisi sutradara. Ia
telah menyutradarai puluhan FTV, antara lain “Bali Mounth” dan “Terlalu Muda untuk Bercinta”.
Menyinggung tentang aktivitasnya sebagai deklamator ulung, Ia menceritakan bahwa prosesnya tidaklah singkat. Ia sering mengikuti lomba baca puisi dari satu kota ke kota lainnya, bahkan
berhasil meraih juara pertama dalam tingkat nasional beberapa kali. Namun, saat ini Octavianus tidak
lagi aktif dalam lomba baca puisi.
Octavianus juga menceritakan tentang pendirian Taman Inspirasi Sastra Indonesia, sebuah komunitas
sastra daring dengan hampir seribu anggota dari seluruh Indonesia. Komunitas ini mencakup berbagai
kalangan, mulai dari profesor hingga ibu rumah tangga, bahkan ada peserta dari Jerman dan beberapa
peserta adalah profesor. Selain itu, Ia juga mendirikan Octa Production House yang berfokus
pada dunia visual.
Terakhir, Octavianus menyatakan bahwa
saat ini ia lebih banyak menyelenggarakan kegiatan sastra yang ia gagas. Ia mengajukan proposal kepada dinas kebudayaan dan dinas seni, dan jika diterima, ia akan menyelenggarakan kegiatan tersebut.
Octavianus menjelaskan bahwa ia bukanlah seorang event organizer, tetapi ia mengorganisir kegiatan-kegiatan tersebut sendiri.
Dengan dedikasi dan kerja kerasnya, Octavianus Masheka terus menginspirasi banyak orang melalui
karya-karyanya dalam sastra dan dunia visual. Perjalanan panjangnya dalam dunia seni menjadi bukti
bahwa kesetiaan pada hasrat kreatif dan kecintaan pada seni dapat membawa seseorang meraih kesuksesan yang gemilang.
Tags:
Feature
