Apa Itu Proxy War?

sumber illustrasi: freepik

Proxy war adalah bentuk konflik antara dua kekuatan besar yang menggunakan pemain pengganti untuk menghindari konfrontasi langsung. Dalam proxy war, negara-negara tersebut tidak terlibat secara langsung dalam pertempuran, melainkan melibatkan pihak ketiga sebagai peran pengganti. Perang ini sering kali terjadi di luar wilayah kedua negara yang saling bermusuhan. Proxy war dapat dilakukan melalui berbagai cara, seperti infiltrasi melalui bidang intelijen, militer, pendidikan, ekonomi, ideologi, politik, sosial budaya, atau agama. Pihak ketiga yang bertindak sebagai pemain pengganti bisa berupa negara kecil atau non-state actors seperti LSM, ormas, kelompok masyarakat, atau perorangan.

Sejarah Proxy War dapat ditelusuri kembali ke Perang Dingin antara Uni Soviet dan Amerika Serikat. Kedua negara tersebut tidak ingin terlibat dalam konfrontasi langsung yang dapat memicu perang nuklir, sehingga mereka menggunakan negara-negara kecil atau kelompok pemberontak sebagai pemain pengganti untuk memperjuangkan kepentingan mereka. Contoh terkenal dari Proxy War adalah Perang Vietnam, di mana Amerika Serikat mendukung pemerintah Vietnam Selatan sementara Uni Soviet dan Tiongkok mendukung pemberontak Vietnam Utara.

Kegiatan dalam Proxy War meliputi infiltrasi melalui bidang intelijen, militer, pendidikan, ekonomi, ideologi, politik, sosial budaya, atau agama. Pihak yang terlibat dalam Proxy War dapat memberikan bantuan, kerjasama, dan pengaruh terhadap pihak ketiga untuk mencapai tujuan mereka. Media dan informasi juga sering dimanfaatkan untuk mempengaruhi opini publik dan menciptakan ketegangan antara pihak yang terlibat.

Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas), Jakarta tanggal 19 Juni 2014. Dalam diskusi akademik dengan peserta PPRA LII Lemhannas RI, peserta menyampaikan bahwa pihak asing dapat melancarkan proxy war terhadap Indonesia dalam bentuk sebagai berikut: 

1)   Mendorong pengusaha-pengusaha negara musuh untuk melakukan investasi besarbesaran di Indonesia sehingga pada akhirnya dapat mengendalikan kebijakan strategi ekonomi Indonesia dan menguasai peran penting kegiatan ekonomi di Indonesia mulai dari hulu sampai hilir. 

2)   Menguasai sumber kekayaan alam Indonesia dengan cara yang sistematis. Pertama, melakukan diplomasi untuk melakukan kerjasama dengan Indonesia. Jika melalui diplomasi tidak berhasil, maka bekerja sama dengan negara-negara lain yang memiliki kepentingan yang sama untuk melakukan ekspansi pengaruh strategis ke Indonesia. Jika hal ini juga tidak berhasil, maka akan dilakukan invasi militer ke Indonesia. 

3)   Negara musuh melalui pakta kerjasama ekonomi menguras sumber kekayaan alam Indonesia. 

4)   Menciptakan konflik di Indonesia sehingga Indonesia tidak dapat memproduksi barangbarang komoditas dan negara berkepentingan dengan mudah masuk ke Indonesia, menguasai pasar Indonesia serta menjual produk-produknya. 

5)   Mengirimkan agen-agen intelijen ke Indonesia untuk menguasai lembaga eksekutif, legislatif, dan yudikatif sehingga dapat membuat produk hukum yang menguntungkan iklim investasi negara berkepentingan di Indonesia dalam rangka mengeksploitasi sumber kekayaan alamnya.

6)   Membangun strategi global dalam rangka menjadikan Indonesia sebagai bagian dari suatu komunitas internasional yang harus mematuhi aturan-aturan internasional. Dengan demikian, Indonesia tidak akan bisa menolak kebijakan yang telah ditetapkan komunitas tersebut walupun merugikan kepentingan domestik Indonesia. 

7)   Melakukan negosiasi kerjasama ekonomi dengan Indonesia dengan disertai diplomasi dan intervensi intimidatif kepada pejabat pemangku kebijakan di bidang ekonomi. 

8)   Mencari dan menciptakan calon pemimpin Indonesia sedini mungkin sehingga nantinya dapat dipengaruhi dan menjadi pemimpin boneka yang dapat dikendalikan dan membuat kebijakan-kebijakan yang melindungi kepentingan negara musuh. 

9)   Melancarkan diplomasi internasional, operasi intelijen dan perang asimetris secara bersama-sama untuk mempengaruhi proses pembuatan kebijakan strategis pemerintah Indonesia.

Pentahapan Proxy War sebagai berikut : tahap I Infiltrasi, tahap II Eksploitasi, tahap III Politik Adu Domba dan tahap IV Cuci Otak serta tahap V Invasi/Pencapaian Sasaran.

a.     Tahap I, Infiltrasi. Tahap Infiltrasi. Dalam tahap ini dilakukan sebuah infiltrasi melalui bidang-bidang seperti intelijen, militer, pendidikan, ekonomi, ideologi, politik, sosial budaya atau kultur dan agama, bantuan-bantuan, kerjasama diberbagai bidang, termasuk penggunaan media dan informasi.

b.     Tahap II, Eksploitasi. Dalam tahap ini dilakukan eksploitasi dengan melemahkan dan menguasai bidang-bidang seperti intelijen, angkatan bersenjata, ekonomi, politik, budaya dan ideologi, termasuk pendidikan, dimana semua ini sebenarnya adalah titik berat dari kekuatan suatu negara.

c.     Tahap III, Politik Adu Domba. Dalam tahap ini dilakukan politik adu domba. Pada tahap adu domba ini Kekuatan Asing (Konspirasi Global), melakukan upaya kegiatan melalui kaki tangannya (orang atau tokoh) baik yang menyadari maupun yang tidak menyadari bahwa dia diperalat oleh kekuatan asing tersebut, media, dan dibantu sarana maupun prasarana lainnya. Hal ini dilakukan untuk menimbulkan kekacauan ataupun kekerasan, konflik horizontal (suku, agama, ras, dan antar golongan) dan menimbulkan perang saudara.

d.     Tahap IV, Cuci Otak (Brain Wash). Dalam tahap ini mereka mempengaruhi paradigma berfikir masyarakat, yakni paradigma kebangsaan (nasionalisme) menjadi cara pandang yang universal dengan keutamaan isu-isu global, semisal demokratisasi, lingkungan hidup, dan Hak Asasi Manusia, ke dalam kehidupan masyarakat seharihari.

e.     Tahap V, Invansi / Pencapaian Sasaran. Tahap ini adalah tahap akhir dimana tahap ini dilakukan dalam keadaan terpaksa, jika tahap tahap sebelumnya dinilai belum membawa hasil sesuai dengan yang diharapkan.

Strategi dan Cara Menghadapi Peperangan Masa Depan (Proxy War).

a.       Generasi Muda Indonesia. 

Generasi muda adalah regerasi baru yang cepat atau lambat akan menggantikan generasi sebelumnya. Regenerasi ini terjadi secara alamiah. Generasi muda adalah pelari estafet berikutnya dalam dunia kompetisi di dunia ini. Setiap generasi punya tantangannya sendiri karena perubahan struktur sosial, global, dan juga perkembangan teknologi.

b.       Mahasiswa Sebagai Agen Perubahan.

Agar mahasiswa bisa menjadi agen perubahan, maka terlebih dahulu harus mampu memahami hakekat dirinya sebagai mahasiswa. Dilihat dari bentuk katanya, mahasiswa berasal dari dua kata yaitu “maha” yang berarti besar, dan “siswa” berarti orang yang belajar. Jadi mahasiswa adalah pelajar yang mempunyai derajat paling tinggi dibandingkan dengan pelajar-pelajar lainnya. Untuk itu, mahasiswa harus menggunakan akal pikiran dan hati nuraninya dalam setiap langkah untuk mengatasi masalah yang ada dan menjadi pioner perubahan tatanan masyarakat.

c.       Aksi Pemuda untuk Menangkal Proxy War.

Ancaman perang proxy ini tentu saja bukan semata-mata menjadi tugas dan tanggung jawab Kementerian Pertahanan, aparatur TNI akan tetapi menjadi tanggung jawab seluruh komponen masyarakat, sesuai peran dan kapasitasnya masing-masing. Oleh karena itu sangat penting, membangun kesadaran untuk waspada terhadap ancaman tersebut, mulai dari entitas terkecil yaitu keluarga, lingkungan pendidikan, lingkungan masyarakat dan bangsa. 



 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama