Sumber ilustrasi :
freepik
Setiap manusia pasti akan atau mungkin
sudah merasakan, masa peralihan dari remaja menuju dewasa. Katanya, menjadi
dewasa itu tidaklah mudah. Kita akan mengalami banyak perubahan dalam hidup,
entah perubahan baik ataupun buruk. Tergantung dengan apa yang kita tanam saat
semasa remaja.
Di fase dewasa kita akan menemukan
masalah-masalah baru, tidak seperti dulu saat masih remaja. Saat remaja,
masalah yang dihadapi hanyalah perihal belajar, pertemanan, ataupun cinta
monyet. Berbeda ketika kita menginjak fase dewasa, bagi saya banyak hal menyakitkan
yang terjadi dan tak pernah saya duga. Di fase ini saya banyak mengenal rasa
sakit yang begitu perih, mengalami rasa kesepian, mengalami apa itu
pengkhianatan, dan merasa ketakutan akan masa depan. Ternyata beranjak dewasa
tidak seindah yang saya kira.
Pada saat itu, saya merasa perubahan
yang saya alami adalah perubahan yang buruk. Teringat betapa putus asanya saya,
sampai tidak memiliki motivasi hidup dan takut untuk melangkah maju. Banyak
kekecewaan yang saya alami saat semasa remaja yang berdampak sampai saya
dewasa. Satu hal yang sangat saya takutkan, yaitu kegagalan.
Setiap langkah yang saya ambil terasa
seperti langkah yang salah, setiap usaha yang saya usahakan terasa sia-sia.
Ketakutan akan kegagalan terus menghantui tidur saya, membuat saya terjaga
sepanjang malam dengan pikiran yang terus berkecamuk, berisik dan membuat saya
frustasi.
Ketika saya merasakan banyak beban dan
masalah yang terpendam. Saya ingin sekali mencurahkannya, namun pada akhirnya
semua itu hanya menjadi rahasia yang dipendam seorang diri. Karena saya tidak
ingin seorangpun tahu dan merasa terbebani dengan kerumitan yang terjadi dalam
hidup saya. Entah ini tindakan yang benar atau salah.
Dari sini saya mulai menyadari bahwa
kata sendiri bukanlah hal yang aneh lagi. Di fase ini semua orang sudah mulai
fokus dengan urusan dirinya sendiri. jika saya pergi kemanapun, saya selalu
ingin ditemani oleh teman. Namun sekarang tidak ada satupun teman yang menemani
karena kesibukan mereka. Dan saya sangat mengerti.
Ada masa dimana saya sangat membenci
diri sendiri. Saya sering merasa iri setiap kali melihat postingan pencapaian
teman-teman saya di media sosial. Saya selalu mempertanyakan kenapa saya masih
saja terpaku di titik yang sama dan tidak ada pencapaian yang bisa saya
banggakan. Apa yang saya inginkan sukar sekali terwujud, seakan sebuah
kegagalan adalah bayangan yang terus mengikuti langkah saya. Kenapa teman-teman
saya terlihat begitu mudah mencapai suatu hal. Saya merasa dunia tidak adil.
saya merasa iri.
Namun seiring berjalannya waktu,
pemikiran saya mulai terbuka. Dalam perjalanan kedewasaan yang penuh liku dan
rintangan ini, saya belajar untuk menerima diri sendiri dengan segala
kekurangan saya. Bahwa pada akhirnya tidak ada yang sempurna di dunia ini,
setiap langkah kecil yang saya ambil adalah bagian dari perjalanan ke arah yang
lebih baik. Saya mulai memahami bahwa kegagalan bukanlah akhir dari segalanya,
melainkan awal dari perjalanan yang sangat berarti.
Apa yang teman-teman saya capai itu
pasti tidak luput dari proses yang panjang, dan mungkin lebih sulit dari apa
yang saya alami saat ini. Saya hanya melihat mereka ketika berhasil saja, tidak
tahu-menahu dibalik semua itu mereka berjuang sekeras apa. Maka dari itu, saat
ini saya mencoba untuk keluar dari zona nyaman, pencapaian yang saya lihat di
sosial media saya jadikan motivasi. Saya mulai berani mencoba hal baru lagi
tanpa takut gagal. karena sekarang yang lebih saya takutkan adalah merasa
menyesal tidak mencoba daripada takut akan kegagalan.
Memang saya merasa fase ini sangatlah
sulit dan menyedihkan, yang membuat saya hampir putus asa. Tapi saya mencoba
untuk bangkit dan percaya kepada diri sendiri bahwa saya mampu melewati masa
sulit ini. Saya tidak ingin kesedihan dan ketakutan saya menjadi penghalang
saya untuk menggapai masa depan. Karena menurut saya, masa depan cerah tercipta
untuk orang yang selalu berusaha melakukan yang terbaik dan tidak mudah putus
asa.
Dewasa adalah menjadi orang yang dapat
menyelesaikan masalah, bukan yang lari dari masalah atau bahkan takut untuk
menghadapi sebuah masalah. Maka dari itu, saya harus bertanggung jawab atas
hidup saya sendiri dan bertanggung jawab dengan apapun keputusan yang saya
pilih. Proses menjadi dewasa itu bukan dilihat dari faktor usia, tetapi dilihat
dari bagaimana saya bertanggung jawab atas apa yang saya lakukan dan kerjakan.
